Sabtu, 17 Desember 2011

Ini Hedonnya Gembel, bukan Gembelnya Hedon

Cerita ini berawal dari rencana mbolang mengunjungi teman di Bali yang gagal. Akhirnya aku dan 2 orang sohibku deal ke Bandung. Karena dirasa kurang asik kalo cuma ber3, aku hubungi 1 temenku yang lain. Dengan pikiran "temenan ta, iki?" (bahasa Jawa-Suroboyo yang berarti "beneran ta, ini?"), temenku ngajak 1 temen lagi dan akhirnya jadilah kita ber5 berangkat nge-hedon ala gembel. H-3 (kalo gak salah) kita langsung berburu tiket berangkat & pulang di Stasiun Gubeng. Kita pilih naik kereta bisnis Mutiara Selatan, nggak berani ambil resiko naik ekonomi karna 5 orang cewek semua. Masih di hari dan lokasi yang sama, setelah dapet tiket, kita langsung search tempat nginep yang murah. Setelah beberapa kali menghubungi, akhirnya kita dapat tempat di (GGM) Gelanggang Generasi Muda.

Jum'at, 28 Januari 2011
Hari itu ada dua kejadian yang bikin kita hampir gagal berangkat. Pertama, pagi-pagi udah ada berita kecelakaan kereta api Mutiara Selatan, tapi Alhamdulillah nggak ada halangan dari orang tua untuk lanjut berangkat. Kedua, gara-gara ada satu temenku yang baru nyampe Gubeng 2 menit sebelum kereta berangkat dan lagaknya santai banget. Aku sendiri baru nyampe 5 menit sebelumnya. Jadi sambil lari-lari menuju kereta kita ketawa-ketawa karena kejadian seperti ini bukan kali pertama terjadi. Waktu sudah masuk kereta baru bener-bener ngerasa lega.


Sabtu, 29 Januari 2011
Begitu turun dari kereta, "WOW, gak nyangka kita sudah di BANDUNG!". Sejauh ini emang Bandung-lah kota terjauh yang kita kunjungi. Setahun sebelumnya aku dan temen-temen ngisi liburang ke Semarang.
Berhubung baru cek-in di GGM jam 12 siang, jadi kita nggembel dulu di stasiun. Nunut cuci muka+sikat gigi, trus sarapan di Hokben (harap maklum, namanya gembel pengen hedon). 


Ini foto yang pertama kali kuambil begitu sampai
(29-01-2011: 08.31)

Sekitar jam 11-an, kita hengkang dari stasiun. Berhubung bener2 baru di Bandung jadi kita naksi ke GGM yang ternyata deket dari stasiun, soalnya ada di pusat kota. Dalam hati, 'wah, sip iki, cedhek teko endi-endi!' ('wah, sip ini, dekat dengan mana-mana!'). Masuk GGM Alhamdulillah dapet kamar enak. 1 kamar isi 3 bed queen size, lemari, kamar mandi. Habis mandi & ngaso, kita mulai jalan berbekal peta, duit secukupnya & air minum.
Jadi rute kita sore itu ke Bandung Kota Tua (karna kita anak arsitektur yang tidak akan pernah melewatkan kota tua): GGM - Pemkot Bandung - Bank Indonesia - Braga (Landmark-Braga Citywalk-Black cat gallery-Perpus/Museum KAA) - Kantor Pos - kembali ke GGM
Gak ada pengeluaran buat transport sama sekali, tapi jelas kaki njarem. Duit cuma kepake buat njajan di tengah jalan. Begitu nyampe GGM antri mandi & ngaso lagi. Setelah isya' baru cari makan di depan GGM, abis itu jalan-jalan sebentar (baca: cuma beli aqua botol) ke BIP yang lokasinya di sebelah GGM pas.

Minggu, 30 Januari 2011
Bangun pagi, antri mandi. Rute kita hari ke-2 lebih jauh (sengaja ambil rute ini di hari Minggu, soalnya saat itulah kami 24 jam di Bandung): GGM - Gedung Sate - Alun-alun (sarapan) - Paris Van Java - Cibaduyut - Cihampelas - kembali ke GGM
Trip hari ke-2 ini selain banyak pengeluaran buat transport juga pengeluaran buat belanja. Jarak antar obyek lumayan jauh, jadi ngangkot terus. Hari Minggu di Alun-alun rame banget, jadi cuma mampir sarapan aja. Bahkan di Gedung Sate pun kita gak bisa foto-foto. Di PVJ (namanya juga mall) cuma beli pin & foto2. Di CIbaduyut kita berburu sepatu. Di Cihampelas kita beli macem2, mulai bola kaca, kaos, & celana jins. Karna hujan gerimis kita ngiyup (berteduh) dulu di CiWalk, baru pulang. 

Senin, 1 Februari 2011
Membalas dendam karena kemarin gak bisa foto2, senin pagi kita memutuskan kembali ke Gedung Sate & Alun-alun sekaligus sarapan bubur ayam. Cerita menarik pagi itu adalah saat kita lagi di Gedung Sate kebarengan sama syuting filmnya Tarix Jabrix 3. Waktu jalan balik ke GGM eh kebarengan lagi (waktu itu scene nya mereka lagi keliling Bandung naik Vespa). Setelah check out dari GGM kita ke pasar baru, belanja lagi sambil nunggu kereta pulang sore. Dari pasar Baru kita naik taxi ke stasiun. Sebenernya ada satu yang aku & temen2 pingin tapi gak keturutan yaitu cireng. Waktu kita tanya pak supir taxi dia malah gak tau dan bilangnya, "oh, itu makanannya orang susah neng!". (buahahaha, ngakak total, cocok buat kita itu).
Setelah itu, Selamat tinggal Bandung! Suatu saat aku akan kembali dengan uang yang lebih banyak dan minat belanja yang lebih bagus lagi. InsyaAllah. Amin.

Selasa, 2 Februari 2011
Welcome back to Surabaya :)

Ini rincian pengeluaranku pribadi (tanpa belanja)
- kereta berangkat       Rp 175.000,00 (pas weekend)
- kereta pulang            Rp 140.000,00 (pas weekday)
- taxi St.-GGM             Rp      4.000,00 (sudah dibagi 5 org)
- GGM 2 mlm               Rp 100.000,00
- makmin 7x                 Rp   78.000,00 (makannya agak mahal)
- angkot GGM-PVJ                       Rp 7.000,00
- angkot PVJ-Cibaduyut                Rp 5.500,00
- angkot Cibaduyut-Cihampelas   Rp 6.000,00
- angkot Cihampelas-GGM           Rp 2.500,00
- taxi GGM-Pasar Baru                 Rp 4.000,00 (sudah dibagi 5 org)
- taxi P. baru-Stasiun                    Rp 4.000,00 (sudah dibagi 5 org)
TOTAL     Rp 526.000,00

Ini rincian pengeluaranku pribadi (belanja & cemilan di jalan)
- belanja         Rp 333.000,00 (waktu itu aku tergolong orang yg belum bisa belanja)
- cemilan        Rp   20.500,00 (cemilan di bandung dan di kereta)



Kalo dijumlah semua habisnya Rp 879.500,00
Buat kamu yang pengen jalan2 ke Bandung, jumlah itu bisa berkurang kalo kamu naik kereta ekonomi (apalagi di hari selain weekend) & bisa nyari makan yg murah. Kalo mau sekamar di GGM 9 orang (jadi 1 bed 3 orang, ;p) malah lebih murah lagi, atau cari paket yang lebih murah lagi ada di GGM. Makanya ajak temen yg banyak sekalian.

Senin, 12 Desember 2011

Don't Judge A Book Just From Its Cover (all ab. my name)

Hello, my name is Fakhurin (F-A-K-H-U-R-I-N) and i'm a GIRL! (semoga ini sudah cukup menjelaskan judul di atas)
Nama lengkap saya Fakhurin Khusnida Noviabahari. Sudah terlalu banyak orang yang salah panggil dan mengira kalau saya ini laki-laki. Jadi inilah CERITA PERTAMA saya. Akan menjadi sebuah pengalaman tersendiri saat kamu dikira ber-gender laki-laki padahal kamu perempuan, and vice versa. Dan saking seringnya hal ini terjadi sekarang saya sudah terbiasa.
Beberapa kali saya SMS orang yang tidak mengenal saya (dengan mencantumkan nama saya di bagian akhir SMS), mereka membalas, "Iya, Mas!". Sekalian deh saya isengin, "Oh ya, lain kali jangan panggil Mas ya?" :P
Beberapa dosen sering memanggil saya Fakhrudin pada saat absensi atau berkomentar, "Oh, saya kira laki-laki." (saat itu terjadi teman2 sekelas saya pasti tertawa)
Ada cerita waktu saya mau menginap di rumah temen. Temen saya SMS ibunya, kurang lebih seperti ini: 'Bu, temenku mau nginep rumah, Endu sama Fakhurin'. Endu sih sudah sering nginep jadi ibunya sudah kenal. Lalu apa balasan ibunya? Kurang lebih seperti ini: 'Lho, temenmu cowok ikut nginep juga?' (Saya: baiklah-baiklah... kan sudah biasa.)
Lain lagi di kantor imigrasi baru-baru ini, "Fakhurin ..." Kata pertama disebutkan dengan benar. Dalam hati, 'tumben gak salah'. Tapi selanjutnya "...Khusniadi Noviabahari". (ini membuat saya =.=". Bisa membayangkannya?)
Selain cerita-cerita diatas, sepertinya masih ada beberapa cerita sejenis yang saya lupa.


Another side of my name
Fakta selanjutnya tentang nama saya adalah orang selalu bingung kalau mau manggil saya. Bayangkan saya berkenalan dengan orang dan dia bertanya "Namanya siapa, mbak?"
"Fakhurin." (Biasanya orang tersebut akan bertanya lagi, "Siapa, mbak?" dan saya harus mengucapkan nama saya lagi. Kadang saya terpikir untuk membuat name tag.)
Jelas tidak jelas mereka pasti akan bertanya lagi, "Panggilannya siapa, mbak?"
Dan saya pasti menjawab, "ya itu."
Seandainya orang yang berkenalan dengan saya itu kamu, pasti terpikir untuk memutilasi nama saya, mencari panggilan yang tepat dan enak. Tapi apa? Hasil yang kamu dapatkan adalah: Fakh, Khur, Rin. Beberapa teman memberikan pilihan, "Mending Fakh kan daripada Urin?".
"Atau Khusni?". (Nah lho?)
Saya sih oke2 saja, selama itu masih berada dalam bagian nama saya, mau apapun itu.


Overall, saya bangga dengan nama yang diberikan orang tua saya. Ada do'a baik yang terkandung dalam setiap nama yang diberikan orang tua kepada anak-anak mereka. Saya rasa nama saya spesial, membuat saya merasakan pengalaman-pengalaman menarik diatas, yang tidak semua orang dapat merasakannya. :)
Jadi nasehat saya, Jangan menebak-nebak seseorang jika Anda hanya tau namanya. :)